FPCI Dorong ASEAN Lebih Berpusat pada Rakyat
Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) melalui ASEAN For The Peoples Week 2026 menegaskan pentingnya arah baru bagi ASEAN yang lebih dekat dengan masyarakat. Digelar di Cebu, Filipina, bertepatan dengan KTT ke-48 ASEAN, forum ini membawa pesan bahwa masa depan ASEAN tidak cukup hanya dibangun melalui diplomasi antarnegara, tetapi juga harus melibatkan rakyat sebagai pusat dari komunitas regional.
Di tengah meningkatnya fragmentasi geopolitik global, rivalitas kekuatan besar, serta tantangan ekonomi dan sosial lintas batas, pendekatan people-centered ASEAN dinilai semakin relevan.
ASEAN Tidak Bisa Hanya Bergerak dari Atas
Selama ini, ASEAN sering dipandang sebagai forum antar pemerintah yang fokus pada stabilitas politik dan kerja sama ekonomi tingkat tinggi. Namun FPCI menekankan bahwa visi ASEAN sebagai komunitas kawasan akan lebih kuat jika masyarakat benar-benar merasa menjadi bagian dari proses tersebut.
Konsep “ASEAN for the Peoples” berarti:
- Kebijakan lebih inklusif
- Partisipasi publik lebih luas
- Generasi muda terlibat
- Media dan akademisi aktif
- Masyarakat sipil punya ruang
Dengan kata lain, ASEAN perlu terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, bukan sekadar agenda diplomatik.
Cebu Jadi Simbol Keterlibatan Publik
Penyelenggaraan forum di Cebu menunjukkan upaya membawa diskusi ASEAN keluar dari ruang formal elite politik menuju ruang publik yang lebih luas.
Berbagai agenda seperti:
Dialog kebijakan
Fellowship jurnalis
Talk show
Town hall
Pemutaran film
menjadi pendekatan baru untuk membangun identitas ASEAN yang lebih hidup dan relevan.
Dino Patti Djalal Tekankan ASEAN Milik Masyarakat
Pendiri FPCI Dino Patti Djalal menyoroti bahwa komunitas ASEAN harus dibentuk tidak hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh rakyat kawasan itu sendiri.
Pernyataan ini penting karena ASEAN selama ini menghadapi tantangan berupa:
- Jarak antara kebijakan dan publik
- Minimnya pemahaman masyarakat
- Identitas kawasan yang belum kuat
- Keterlibatan warga yang terbatas
Membangun rasa memiliki menjadi kunci agar ASEAN lebih solid.
Filipina Dorong Identitas Bersama
Sebagai ketua penyelenggara KTT ke-48, Filipina menempatkan inklusi sosial dan identitas bersama sebagai prioritas penting.
Ini menunjukkan bahwa di tengah dinamika global, negara-negara ASEAN mulai melihat:
Persatuan sosial
Keterlibatan rakyat
Solidaritas kawasan
sebagai kekuatan strategis, bukan sekadar simbol.
Posisi ASEAN di Tengah Dunia yang Terfragmentasi
Forum ini juga menyoroti peran ASEAN sebagai salah satu kawasan yang masih mampu menjaga dialog kolektif di tengah melemahnya banyak lembaga internasional.
Di saat dunia menghadapi:
- Polarisasi geopolitik
- Konflik regional
- Persaingan ekonomi
- Krisis kepercayaan global
ASEAN dinilai masih memiliki keunggulan berupa:
Konsensus
Dialog
Stabilitas relatif
Kerja sama multilateral
Timor-Leste dan Nilai Strategis ASEAN
Pandangan dari perwakilan Timor-Leste menegaskan bahwa ASEAN tetap memiliki posisi penting sebagai ruang negosiasi kawasan.
Ini menarik karena memperlihatkan bahwa bahkan negara yang masih dalam proses integrasi penuh pun melihat ASEAN sebagai:
- Platform strategis
- Jaringan diplomatik
- Pilar stabilitas regional
Tantangan Nyata ASEAN ke Depan
Meski punya posisi penting, ASEAN juga menghadapi tantangan serius:
Ketimpangan pembangunan
Isu migrasi pekerja
Perubahan iklim
Keamanan digital
Rivalitas negara besar
Karena itu, pendekatan yang lebih berpusat pada rakyat bisa membantu memastikan kebijakan regional benar-benar menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Policy Brief Menuju KTT ASEAN Berikutnya
Salah satu hasil penting forum ini adalah rekomendasi kebijakan yang akan dibawa menuju KTT ASEAN ke-49 di Manila.
Artinya, forum publik ini bukan hanya diskusi simbolik, tetapi diharapkan memberi kontribusi nyata terhadap arah kebijakan kawasan.
ASEAN Masa Depan Butuh Keseimbangan
ASEAN ke depan kemungkinan perlu menyeimbangkan dua hal besar:
Stabilitas geopolitik
dan
Kesejahteraan rakyat
Tanpa stabilitas, kawasan rentan terpecah. Tanpa keberpihakan pada rakyat, ASEAN berisiko dianggap jauh dari masyarakatnya sendiri.
Kesimpulan
ASEAN For The Peoples Week 2026 menjadi pengingat bahwa kekuatan ASEAN tidak hanya terletak pada pertemuan para pemimpin, tetapi juga pada sejauh mana masyarakat merasa terlibat, terlindungi, dan terhubung dengan visi kawasan.
Dorongan FPCI untuk membangun ASEAN yang lebih inklusif, tangguh, dan berpusat pada rakyat menunjukkan arah baru bahwa diplomasi regional modern harus lebih terbuka terhadap suara publik.
Baca Juga : Laporan Pangkalan Rahasia Israel di Irak Mengemuka
Cek Juga Artikel Dari Platform : jalanjalan-indonesia

