Transisi Energi Kian Bertumpu pada Panas Bumi
Transisi energi nasional menuju sumber energi bersih dan berkelanjutan semakin menunjukkan arah yang jelas. Energi panas bumi kini dipandang sebagai salah satu tulang punggung penting dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan sekaligus mendorong peningkatan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia.
Analis pasar modal dari Bahana Sekuritas, Jeremy Mikael, menilai PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE/PGEO) memiliki peran yang semakin strategis dalam agenda transisi energi nasional.
Panas Bumi sebagai Sumber Listrik Baseload
Menurut Jeremy, panas bumi memiliki keunggulan utama sebagai sumber listrik berkarakter baseload. Artinya, pembangkit listrik panas bumi mampu beroperasi secara stabil dan berkelanjutan tanpa tergantung pada kondisi cuaca, berbeda dengan energi surya atau angin.
Karakteristik ini menjadikan panas bumi sangat penting untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional, terutama ketika porsi EBT terus ditingkatkan. Dalam konteks ini, peran PGE dinilai krusial karena mengelola salah satu portofolio panas bumi terbesar di Indonesia.
Posisi Strategis PGEO di Tengah Transisi Energi
Jeremy menyebut PGEO berada pada posisi yang solid untuk memanfaatkan momentum transisi energi. Dengan pipeline ekspansi yang jelas dan terukur, PGEO dinilai mampu memperkuat kontribusi EBT nasional secara berkelanjutan.
“Dengan target pengembangan kapasitas menuju satu gigawatt (GW) dan produksi 5,5–6,0 gigawatt hour (GWh) pada 2028, PGEO menawarkan kombinasi pertumbuhan yang terukur dan profil bisnis yang relatif defensif,” ujar Jeremy dalam keterangan tertulisnya, Selasa (30/12/2025).
Ia menambahkan, jika dibandingkan dengan sejumlah emiten EBT lain maupun sektor komoditas seperti pertambangan mineral dan logam, model bisnis panas bumi cenderung lebih stabil dan memiliki risiko fluktuasi yang lebih rendah.
Daya Tarik Investasi Energi Hijau
Dari perspektif pasar modal, saham PGEO juga dinilai memiliki potensi yang positif. Pertumbuhan yang lebih terukur serta kepastian proyek menjadi daya tarik tersendiri bagi investor yang ingin berinvestasi di sektor energi hijau dengan tingkat risiko yang lebih terkendali.
Jeremy menilai target PGEO untuk menjadi “one gigawatt company” melalui pengembangan sejumlah proyek strategis akan menjadi katalis penting bagi pertumbuhan jangka menengah hingga panjang.
“Karakteristik bisnis panas bumi yang stabil membuat pertumbuhan pendapatan dan laba PGEO relatif lebih konsisten,” jelasnya.
Proyeksi Kinerja hingga 2028
Dalam analisisnya, Jeremy memproyeksikan bahwa dalam tiga tahun ke depan, kapasitas terpasang PGEO berpotensi mencapai satu GW. Dengan capaian tersebut, total produksi listrik diperkirakan berada di kisaran 5,5–6,0 GWh pada 2028.
Dari sisi keuangan, EBITDA PGEO diproyeksikan dapat mencapai sekitar USD 484 juta pada 2028, dengan compound annual growth rate (CAGR) periode 2024–2028 sebesar 11 persen. Sementara itu, laba bersih diperkirakan mencapai USD 201 juta pada 2028 dengan CAGR sekitar 5,8 persen.
Proyeksi ini mencerminkan pertumbuhan yang moderat namun berkelanjutan, sejalan dengan karakter defensif sektor panas bumi.
Fundamental Keuangan Dinilai Sehat
Selain prospek pertumbuhan, Jeremy juga menyoroti kondisi fundamental PGEO yang dinilai masih cukup sehat. Neraca keuangan perusahaan dianggap kuat dan memberikan ruang yang memadai untuk ekspansi ke depan.
“PGEO memiliki growth story yang jelas dari sisi penambahan kapasitas secara organik. Dari sisi valuasi, PGEO juga masih relatif reasonable dibandingkan pemain panas bumi lainnya di Indonesia,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa gearing ratio PGEO berada di bawah rata-rata industri, sehingga perusahaan masih memiliki debt headroom apabila diperlukan untuk mendukung ekspansi proyek-proyek baru.
Peran Panas Bumi dalam Bauran EBT Nasional
Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan peningkatan signifikan porsi EBT dalam bauran energi nasional. Dalam kerangka tersebut, panas bumi menjadi salah satu sumber energi yang paling diandalkan karena potensi cadangannya besar dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Dengan pengalaman panjang dan aset yang dimiliki, PGEO dipandang sebagai salah satu motor utama dalam mewujudkan target tersebut. Pengembangan panas bumi tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional.
Prospek Jangka Panjang Tetap Terbuka
Melihat kombinasi antara peran strategis dalam transisi energi, profil bisnis yang defensif, serta fundamental keuangan yang solid, Jeremy meyakini peluang pertumbuhan PGEO dalam beberapa tahun ke depan masih sangat terbuka.
Bagi investor yang mencari eksposur ke sektor energi hijau dengan volatilitas yang relatif lebih rendah, panas bumi—dan khususnya PGEO—dinilai menawarkan proposisi yang menarik di tengah dinamika global menuju ekonomi rendah karbon.
Dengan transisi energi yang kian bertumpu pada sumber energi bersih dan andal, panas bumi diproyeksikan akan semakin memainkan peran sentral dalam sistem energi Indonesia ke depan.
Baca Juga : BPH Migas dan PGN Jamin Keandalan Pasokan Gas Bumi saat Libur Nataru
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : outfit

