Saham BUMI Merosot, Transaksi Tembus Rp1,3 Triliun
Tekanan Saham BUMI di Tengah IHSG Menguat
Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali mengalami tekanan pada perdagangan saham Senin, 19 Januari 2026. Koreksi terjadi di saat mayoritas indeks pasar saham domestik justru bergerak menguat.
Kondisi tersebut menarik perhatian pelaku pasar karena pergerakan saham BUMI berlawanan arah dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berada di zona hijau sejak pembukaan perdagangan.
Tekanan pada saham BUMI mencerminkan dinamika aksi jual yang cukup besar, terutama setelah saham ini mencatat lonjakan signifikan sepanjang tahun sebelumnya.
Harga Turun Hampir 4 Persen
Mengutip data perdagangan RTI, harga saham BUMI ditutup melemah 3,9 persen ke level Rp394 per saham.
Saham BUMI dibuka stagnan di posisi Rp410 per saham sebelum akhirnya bergerak turun sepanjang sesi perdagangan. Pada hari yang sama, saham BUMI sempat menyentuh level tertinggi di Rp412 dan terendah di Rp390 per saham.
Fluktuasi harga yang cukup lebar menunjukkan tingginya aktivitas transaksi sekaligus tarik-menarik kepentingan antara pembeli dan penjual.
Nilai Transaksi Tembus Rp1,3 Triliun
Meski mengalami penurunan harga, aktivitas perdagangan saham BUMI tercatat sangat ramai. Total frekuensi perdagangan mencapai 150.188 kali dengan volume transaksi sebesar 32,76 juta saham.
Nilai transaksi saham BUMI bahkan menembus Rp1,3 triliun dalam satu hari perdagangan, menjadikannya salah satu saham dengan nilai transaksi terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari tersebut.
Seiring koreksi harga, kapitalisasi pasar BUMI tercatat berada di kisaran Rp146,31 triliun.
Koreksi Jangka Pendek Setelah Kenaikan Tajam
Berdasarkan data Google Finance, harga saham BUMI telah terpangkas sekitar 15,81 persen dalam lima hari perdagangan terakhir.
Namun jika ditarik dalam horizon yang lebih panjang, performa saham BUMI sepanjang tahun 2025 tergolong luar biasa. Saham emiten batu bara ini tercatat melonjak hingga 225,62 persen dalam setahun.
Lonjakan tajam tersebut membuat saham BUMI menjadi salah satu emiten energi dengan kinerja terbaik pada tahun sebelumnya.
Kondisi ini memicu aksi ambil untung (profit taking) yang wajar ketika harga mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
IHSG Tetap Menguat di Sesi Perdagangan
Berbeda dengan pergerakan saham BUMI, IHSG justru menguat pada sesi pertama perdagangan.
IHSG naik 0,27 persen ke posisi 9.099,69. Indeks sempat bergerak di level tertinggi 9.109,03 dan terendah 9.025,99 sepanjang sesi.
Indeks saham unggulan LQ45 turut mencatatkan penguatan sebesar 0,10 persen ke level 890,29.
Penguatan IHSG menunjukkan bahwa tekanan pada saham BUMI lebih bersifat spesifik emiten, bukan sentimen pasar secara keseluruhan.
Mayoritas Saham Bergerak Variatif
Secara keseluruhan, pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia pada hari tersebut berlangsung variatif.
Sebanyak 350 saham tercatat menguat, sementara 337 saham melemah dan 116 saham bergerak stagnan.
Total frekuensi perdagangan mencapai 2,52 juta kali dengan volume transaksi sebesar 37,4 miliar saham.
Nilai transaksi harian bursa tercatat sebesar Rp16,8 triliun, mencerminkan likuiditas pasar yang masih terjaga.
Pergerakan Sektor Saham Tidak Seragam
Dari sisi sektoral, kinerja saham bergerak bervariasi.
Sektor energi secara umum masih mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,20 persen, meskipun saham BUMI sebagai salah satu emiten besar justru terkoreksi.
Sektor consumer nonsiklikal menguat 0,36 persen, consumer siklikal naik signifikan 1,12 persen, dan sektor keuangan bertambah 0,08 persen.
Sektor properti naik 0,32 persen, sementara sektor infrastruktur menguat 0,48 persen.
Tekanan pada Sektor Tertentu
Di sisi lain, beberapa sektor mencatatkan pelemahan.
Sektor basic dan kesehatan masing-masing turun 1,09 persen. Sektor teknologi melemah 0,48 persen, sedangkan sektor transportasi terkoreksi 0,81 persen.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar masih melakukan rotasi sektor, di mana investor berpindah dari saham-saham tertentu ke sektor yang dinilai memiliki prospek jangka pendek lebih menarik.
Aksi Jual Chengdong Jadi Perhatian Pasar
Tekanan pada saham BUMI tidak terlepas dari sentimen aksi jual besar-besaran oleh salah satu pemegang saham.
Chengdong Corporation kembali menjadi sorotan setelah melepas saham BUMI dalam jumlah signifikan.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Chengdong tercatat menjual sekitar 3,71 miliar saham BUMI melalui 17 kali transaksi.
Divestasi Dilakukan Bertahap
Penjualan saham tersebut dilakukan secara bertahap dalam periode 23 Desember 2025 hingga 8 Januari 2026.
Divestasi dilakukan di tengah pergerakan harga saham yang fluktuatif, dengan harga jual berada di kisaran Rp363 hingga Rp461 per saham.
Rentang harga ini menunjukkan bahwa Chengdong memanfaatkan momentum penguatan saham BUMI untuk melakukan pelepasan kepemilikan.
Langkah tersebut turut memicu tekanan psikologis di pasar, terutama bagi investor ritel.
Dampak Terhadap Sentimen Jangka Pendek
Aksi divestasi dalam jumlah besar sering kali menimbulkan kekhawatiran jangka pendek, meskipun secara fundamental perusahaan belum tentu mengalami perubahan signifikan.
Pasar umumnya merespons aksi jual besar dengan peningkatan volatilitas, terutama pada saham yang sebelumnya telah naik tajam.
Dalam kasus BUMI, tekanan jual dinilai sebagai kombinasi antara profit taking dan respons pasar terhadap pelepasan saham oleh pemegang besar.
Profil Singkat PT Bumi Resources Tbk
PT Bumi Resources Tbk merupakan salah satu perusahaan pertambangan terbesar di Indonesia dan berada di bawah naungan Bakrie Group.
Perusahaan ini memiliki sejumlah anak usaha strategis yang bergerak di sektor pertambangan batu bara dan mineral.
BUMI selama bertahun-tahun menjadi salah satu emiten energi dengan likuiditas tinggi di Bursa Efek Indonesia, sehingga pergerakan sahamnya kerap menjadi perhatian pelaku pasar.
Dinamika Saham Energi di Awal 2026
Memasuki awal 2026, saham sektor energi masih berada dalam sorotan investor.
Harga komoditas, kebijakan energi global, serta arah permintaan batu bara menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan saham-saham tambang.
Namun setelah reli kuat sepanjang 2025, banyak investor mulai bersikap lebih selektif dan berhati-hati.
Investor Pantau Arah Pergerakan Selanjutnya
Pelaku pasar kini mencermati apakah koreksi saham BUMI bersifat sementara atau berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Volume transaksi yang besar menunjukkan minat pasar masih tinggi, meskipun arah pergerakan jangka pendek cenderung volatil.
Investor juga akan menunggu perkembangan lanjutan terkait struktur kepemilikan, kinerja keuangan, serta sentimen sektor energi secara global.
Penutup
Perdagangan saham BUMI pada 19 Januari 2026 menjadi gambaran dinamika pasar modal yang sarat volatilitas.
Meski harga saham terkoreksi hampir 4 persen, nilai transaksi yang menembus Rp1,3 triliun menegaskan bahwa saham ini tetap menjadi pusat perhatian investor.
Di tengah penguatan IHSG, koreksi BUMI lebih mencerminkan aksi profit taking dan dampak divestasi pemegang saham besar.
Ke depan, arah pergerakan saham BUMI akan sangat bergantung pada sentimen pasar, kondisi sektor energi, serta respons investor terhadap dinamika kepemilikan saham.
Baca Juga : IMF Proyeksi Ekonomi Global Tumbuh 3,3 Persen di 2026
Cek Juga Artikel Dari Platform : dapurkuliner

