Benarkah Sehari di Bumi Bisa Jadi 25 Jam? Ini Faktanya
beritabumi.web.id Gagasan bahwa satu hari di Bumi dapat berlangsung lebih dari 24 jam sering terdengar seperti cerita fiksi ilmiah. Namun, sains justru menunjukkan bahwa perubahan tersebut memang sedang berlangsung. Rotasi Bumi perlahan melambat, sehingga durasi satu hari bertambah sedikit demi sedikit. Meski demikian, proses ini terjadi dalam skala waktu yang sangat panjang dan tidak akan terasa dalam kehidupan manusia modern.
Perbincangan mengenai hari 25 jam kembali ramai di ruang digital. Berbagai unggahan viral seolah menyiratkan bahwa perubahan ini akan segera terjadi. Padahal, para ilmuwan sepakat bahwa penambahan panjang hari hanya terjadi dalam hitungan milidetik per abad. Dengan kata lain, manusia tidak perlu mengubah jam, kalender, atau rutinitas harian dalam waktu dekat.
Bagaimana Rotasi Bumi Bekerja
Bumi berputar pada porosnya satu kali setiap sekitar 24 jam. Rotasi inilah yang menyebabkan pergantian siang dan malam. Kecepatan rotasi tersebut tidak selalu konstan sepanjang sejarah planet ini. Sejak miliaran tahun lalu, Bumi mengalami perubahan kecepatan rotasi akibat berbagai faktor alam.
Pada masa awal pembentukannya, Bumi berputar jauh lebih cepat. Para peneliti memperkirakan satu hari di masa lampau hanya berlangsung sekitar 10 jam. Seiring waktu, rotasi tersebut melambat hingga mencapai durasi yang kita kenal sekarang.
Peran Bulan dalam Memperlambat Rotasi
Salah satu faktor utama yang menyebabkan rotasi Bumi melambat adalah interaksi gravitasi dengan Bulan. Gaya tarik Bulan menciptakan pasang surut air laut. Gesekan antara massa air yang bergerak dan dasar laut menghasilkan kehilangan energi rotasi Bumi.
Energi yang hilang tersebut tidak lenyap begitu saja. Sebagian energi berpindah ke Bulan, menyebabkan orbit Bulan perlahan menjauh dari Bumi. Proses ini berlangsung sangat lambat, tetapi konsisten dalam skala jutaan hingga ratusan juta tahun.
Seberapa Cepat Hari Bertambah Panjang
Secara ilmiah, penambahan panjang hari akibat perlambatan rotasi hanya sekitar beberapa milidetik per abad. Angka ini sangat kecil sehingga hampir tidak mungkin dirasakan manusia tanpa alat pengukuran presisi tinggi seperti jam atom.
Untuk mencapai satu hari berdurasi 25 jam, dibutuhkan waktu ratusan juta tahun. Oleh karena itu, klaim bahwa manusia akan segera mengalami hari 25 jam jelas tidak akurat. Perubahan ini lebih relevan bagi kajian geologi dan astronomi dibandingkan kehidupan sehari-hari.
Mengapa Topik Ini Kerap Disalahpahami
Kesalahpahaman sering muncul karena informasi ilmiah disederhanakan secara berlebihan. Istilah “rotasi Bumi melambat” kemudian diterjemahkan seolah-olah dampaknya akan langsung terasa. Padahal, skala waktu geologis sangat berbeda dengan skala waktu manusia.
Media sosial juga berperan dalam mempercepat penyebaran narasi yang kurang tepat. Judul sensasional tentang hari 25 jam mudah menarik perhatian, meskipun isi sebenarnya jauh lebih kompleks dan menenangkan.
Dampak Terhadap Kehidupan Manusia
Dalam jangka pendek, perlambatan rotasi Bumi tidak berdampak langsung pada kehidupan manusia. Sistem waktu modern sudah menyesuaikan diri dengan variasi kecil rotasi melalui penambahan detik kabisat pada jam atom internasional.
Detik kabisat ditambahkan untuk menjaga sinkronisasi antara waktu atom dan rotasi Bumi. Ini menunjukkan bahwa sains dan teknologi mampu mengakomodasi perubahan kecil tanpa mengganggu aktivitas global.
Bagaimana Ilmuwan Mengukurnya
Ilmuwan menggunakan berbagai metode untuk mengukur rotasi Bumi. Jam atom memberikan pengukuran waktu yang sangat presisi, sementara observasi astronomi membantu membandingkan rotasi Bumi dengan gerak benda langit lainnya.
Data historis, seperti catatan gerhana ribuan tahun lalu, juga digunakan untuk menelusuri perubahan rotasi. Dengan menggabungkan berbagai sumber data, para peneliti dapat memahami bagaimana panjang hari berubah dari masa ke masa.
Apakah Rotasi Bumi Selalu Melambat
Menariknya, perlambatan rotasi tidak selalu berjalan mulus. Dalam jangka pendek, rotasi Bumi bisa sedikit dipercepat atau diperlambat akibat gempa besar, perubahan distribusi massa es, atau dinamika inti Bumi.
Namun, fluktuasi tersebut bersifat sementara. Tren jangka panjang tetap menunjukkan bahwa rotasi Bumi secara keseluruhan melambat akibat interaksi gravitasi dengan Bulan.
Pelajaran dari Perspektif Kosmik
Fenomena ini mengingatkan manusia bahwa waktu yang kita rasakan sehari-hari hanyalah bagian kecil dari proses kosmik yang sangat panjang. Perubahan yang tampak mustahil dalam skala hidup manusia justru sangat wajar dalam skala astronomi.
Pemahaman ini juga menegaskan pentingnya literasi sains. Dengan memahami konteks waktu dan skala, masyarakat dapat menyikapi informasi viral secara lebih kritis dan rasional.
Kesimpulan
Rotasi Bumi memang melambat, dan panjang hari secara perlahan bertambah. Namun, perubahan menuju satu hari berdurasi 25 jam membutuhkan waktu ratusan juta tahun. Tidak ada dampak langsung terhadap jam, kalender, atau rutinitas manusia saat ini.
Alih-alih menjadi alasan untuk khawatir, fenomena ini justru menunjukkan betapa dinamisnya planet yang kita huni. Dengan pemahaman ilmiah yang tepat, kita dapat melihat isu hari 25 jam bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai bukti menarik tentang bagaimana alam semesta terus berubah secara perlahan namun pasti.

Cek Juga Artikel Dari Platform lagupopuler.web.id
