Tiang Monorel Rasuna Said Dibongkar, Asia Afrika Menunggu
Pembongkaran Tiang Monorel Resmi Dimulai dari Rasuna Said
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya mengambil langkah konkret untuk menuntaskan salah satu warisan proyek infrastruktur mangkrak di ibu kota. Melalui Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Pemprov memastikan pembongkaran tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said akan segera dilakukan pada Januari 2026.
Langkah ini menjadi angin segar bagi warga dan pengguna jalan yang selama hampir dua dekade harus hidup berdampingan dengan tiang-tiang beton monorel yang tidak pernah difungsikan. Jalan HR Rasuna Said sendiri merupakan salah satu koridor bisnis utama Jakarta yang memiliki volume lalu lintas tinggi dan peran strategis dalam mobilitas perkotaan.
Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Dinar Wenny, menyampaikan bahwa fokus penataan kawasan saat ini memang diarahkan sepenuhnya ke Rasuna Said.
“Saat ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Bina Marga masih terfokus untuk penataan kawasan Jalan HR Rasuna Said,” ujarnya.
Anggaran Rp100 Miliar Khusus Rasuna Said
Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan anggaran sekitar Rp100 miliar untuk mendukung program penataan kawasan Rasuna Said. Namun, dana tersebut ditegaskan hanya dialokasikan untuk satu koridor jalan tersebut.
Anggaran ini tidak hanya digunakan untuk pembongkaran tiang monorel, tetapi juga mencakup penataan ulang badan jalan, perbaikan dan pelebaran trotoar, peningkatan fasilitas pejalan kaki, serta penyesuaian elemen pendukung jalan agar lebih aman dan nyaman.
“Termasuk kegiatan pembongkaran tiang monorel, penataan jalan dan trotoar, peningkatan sarana pejalan kaki, serta penyesuaian elemen pendukung,” jelas Dinar.
Penataan Kota dan Upaya Perbaikan Mobilitas
Dinas Bina Marga menegaskan bahwa pembongkaran tiang monorel bukan sekadar menghilangkan struktur beton yang mangkrak. Program ini merupakan bagian dari upaya besar Pemprov DKI Jakarta dalam menata ulang ruang kota agar lebih manusiawi dan berorientasi pada mobilitas berkelanjutan.
Rasuna Said dirancang menjadi koridor yang lebih ramah pejalan kaki, aman bagi pengguna jalan, dan memiliki nilai estetika yang lebih baik. Penataan ini juga diharapkan berkontribusi pada pengurangan kemacetan dengan memperbaiki arus lalu lintas dan aksesibilitas.
Bagi banyak warga, keberadaan tiang monorel selama ini dianggap mengganggu pandangan, mempersempit ruang visual, dan menurunkan kualitas lingkungan perkotaan.
Nasib Tiang Monorel Asia Afrika Masih Menggantung
Meski pembongkaran di Rasuna Said sudah memiliki kepastian waktu, hal berbeda terjadi pada tiang monorel di Jalan Asia Afrika. Hingga kini, Pemprov DKI Jakarta belum memberikan jadwal pasti kapan pembongkaran di kawasan tersebut akan dilakukan.
Saat ditanya soal Asia Afrika, Dinar tidak memberikan jawaban tegas. Ia hanya menegaskan bahwa fokus anggaran dan pekerjaan saat ini masih berada di Rasuna Said.
Kondisi ini membuat publik bertanya-tanya, mengingat Jalan Asia Afrika merupakan kawasan protokol yang memiliki nilai historis dan kerap menjadi wajah Jakarta dalam berbagai kegiatan nasional maupun internasional.
Koordinasi dengan Pemilik Proyek Monorel
Pembongkaran tiang monorel bukan perkara sederhana. Dinas Bina Marga Provinsi Jakarta harus berkoordinasi dengan dua perusahaan yang terlibat langsung dalam proyek monorel yang mangkrak sejak 2007.
Dua perusahaan tersebut adalah PT Adhi Karya (Persero) Tbk dan PT Jakarta Monorail.
“Masih kami koordinasikan, nanti saya kabari kembali,” ujar Dinar melalui pesan tertulis.
Namun, hingga kini, belum diungkap secara detail apa saja hasil pembahasan dengan kedua perusahaan tersebut. Publik belum mengetahui apakah terdapat kendala hukum, administratif, atau teknis yang menghambat pembongkaran di luar Rasuna Said.
Target Waktu: Pekan Ketiga Januari 2026
Meski belum menyentuh Asia Afrika, Dinas Bina Marga memastikan pembongkaran di Rasuna Said akan segera dimulai.
“Insya Allah pekan ketiga Januari 2026,” tulis Dinar.
Pernyataan ini menandai komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk mulai menyelesaikan persoalan monorel mangkrak yang selama bertahun-tahun menjadi simbol proyek gagal di ibu kota.
Monorel Mangkrak, Warisan Masalah Lama Jakarta
Proyek monorel Jakarta dimulai pada pertengahan 2000-an dengan harapan menjadi solusi transportasi massal modern. Namun, proyek tersebut terhenti di tengah jalan dan tidak pernah beroperasi. Tiang-tiang beton yang berdiri di Rasuna Said dan Asia Afrika menjadi saksi bisu kegagalan perencanaan dan implementasi.
Selama hampir dua dekade, tiang monorel tidak hanya menjadi masalah estetika, tetapi juga mempersulit penataan ruang kota. Banyak pihak menilai keberadaan tiang tersebut sebagai beban visual dan simbol ketidakefisienan pembangunan.
Harapan Publik: Penuntasan Menyeluruh
Masyarakat berharap pembongkaran di Rasuna Said menjadi awal dari penyelesaian menyeluruh persoalan monorel mangkrak di Jakarta. Penataan parsial dikhawatirkan hanya memindahkan masalah tanpa benar-benar menyelesaikannya.
Warga dan pemerhati tata kota menilai Jalan Asia Afrika seharusnya menjadi prioritas berikutnya, mengingat nilai strategis dan simboliknya bagi Jakarta.
Penutup
Pembongkaran tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said menjadi langkah penting Pemprov DKI Jakarta dalam menata ulang wajah kota dan menyelesaikan proyek infrastruktur terbengkalai. Dengan anggaran besar dan target waktu yang jelas, Rasuna Said akan segera terbebas dari bayang-bayang monorel mangkrak.
Namun, pertanyaan besar masih tersisa: kapan giliran Jalan Asia Afrika? Hingga ada kepastian anggaran dan hasil koordinasi lintas pihak, jawaban atas pertanyaan tersebut masih harus ditunggu oleh publik Jakarta.
Baca Juga : Cuaca Ekstrem Perparah Krisis Pengungsi di Gaza
Cek Juga Artikel Dari Platform : medianews

