2 Titik Longsor Putus Akses Malang–Pasuruan
Akses Antarwilayah Terputus Total
Bencana tanah longsor kembali memutus jalur penghubung antara wilayah Malang dan Pasuruan. Dua titik longsor besar menutup total akses jalan yang menghubungkan Dusun Umbut Legi, Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, dengan Dusun Pronojiwo, Desa Blarang, Kabupaten Pasuruan.
Sejak Jumat, 9 Januari 2026, jalur tersebut tidak bisa dilalui kendaraan maupun pejalan kaki. Material longsoran berupa tanah, batu, dan pepohonan menutup badan jalan yang selama ini menjadi akses vital bagi aktivitas warga.
Hujan Lebat Jadi Pemicu Longsor
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD Kabupaten Malang) mencatat bahwa longsor dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi. Hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak Kamis sore, 8 Januari 2026.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, menjelaskan bahwa hujan lebat mulai terpantau sekitar pukul 15.00 WIB, khususnya di wilayah Desa Taji dan sekitarnya.
“Sekitar pukul 19.00 WIB hujan tersebut mengakibatkan longsor di beberapa titik di Desa Taji sehingga menutup jalan,” ujar Sadono.
Lima Titik Longsor Teridentifikasi
BPBD Kabupaten Malang mengidentifikasi sedikitnya lima titik longsor di sepanjang jalur tersebut. Longsoran terjadi di beberapa bagian lereng yang berada tepat di sisi jalan.
Dari lima titik tersebut, tiga titik berhasil dibersihkan secara swadaya oleh warga setempat. Warga bergotong royong melakukan kerja bakti dengan alat seadanya demi membuka sebagian akses jalan.
Namun, dua titik longsor lainnya memiliki volume material yang jauh lebih besar, sehingga hingga kini masih menutup jalan secara total.
“Tinggal dua titik longsor yang menutup jalan total,” kata Sadono.
Material Besar Sulit Ditangani Swadaya
Dua titik longsor yang belum tertangani memiliki material tanah bercampur batu besar dan pohon tumbang. Kondisi ini menyulitkan pembersihan jika hanya mengandalkan tenaga manual.
BPBD menilai dibutuhkan alat berat untuk membuka akses di dua titik tersebut. Namun, proses pengiriman alat berat juga terkendala karena medan yang sulit dan cuaca yang masih berpotensi hujan.
Selain itu, kontur jalan yang sempit dan berada di lereng curam membuat proses pembersihan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Dampak bagi Aktivitas Warga
Putusnya akses Malang–Pasuruan berdampak langsung pada aktivitas warga di kedua wilayah. Jalur tersebut selama ini menjadi penghubung utama bagi warga untuk bekerja, bersekolah, hingga mengangkut hasil pertanian.
Beberapa warga terpaksa memutar melalui jalur alternatif yang jaraknya jauh lebih panjang. Bagi kendaraan roda dua, masih ada jalur setapak tertentu, namun kondisinya dinilai berbahaya terutama saat hujan.
Distribusi logistik dan kebutuhan pokok juga berpotensi terganggu jika akses utama tidak segera dibuka.
BPBD Lakukan Pemantauan dan Koordinasi
BPBD Kabupaten Malang menyatakan terus melakukan pemantauan di lokasi longsor. Koordinasi dilakukan dengan perangkat desa, relawan kebencanaan, dan instansi terkait untuk menentukan langkah penanganan lanjutan.
Pihak BPBD juga mengingatkan warga agar tetap waspada terhadap potensi longsor susulan, mengingat curah hujan di wilayah Malang Raya masih cukup tinggi.
Petugas telah memasang tanda peringatan di sekitar lokasi longsor untuk mencegah warga melintas di jalur yang berbahaya.
Risiko Longsor Susulan Masih Tinggi
Kondisi tanah di wilayah Desa Taji dan sekitarnya dinilai masih labil. Struktur tanah yang gembur dan lereng curam meningkatkan risiko longsor susulan, terutama jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
BPBD mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar lereng untuk meningkatkan kewaspadaan. Jika muncul tanda-tanda seperti retakan tanah, pohon miring, atau suara gemuruh, warga diminta segera melapor dan mengungsi ke tempat aman.
Upaya Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Dalam jangka pendek, fokus utama adalah membuka kembali akses jalan agar mobilitas warga bisa kembali normal. Pengerahan alat berat menjadi opsi utama untuk membersihkan dua titik longsor besar.
Untuk jangka panjang, BPBD menilai perlunya kajian ulang terhadap kondisi lereng di sepanjang jalur Malang–Pasuruan. Penguatan tebing, sistem drainase yang baik, serta penanaman vegetasi penahan tanah dinilai penting untuk mengurangi risiko bencana serupa.
Musim Hujan dan Ancaman Bencana
Musim hujan di Jawa Timur kerap meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Wilayah perbukitan dan pegunungan, termasuk Kabupaten Malang, menjadi daerah rawan saat curah hujan tinggi berlangsung dalam waktu lama.
BPBD mengingatkan bahwa kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi dampak bencana. Informasi cuaca dan peringatan dini diharapkan dapat menjadi panduan bagi warga dalam beraktivitas.
Penutup
Dua titik longsor yang menutup total akses Malang–Pasuruan menjadi pengingat akan tingginya risiko bencana di musim hujan. Meski sebagian titik berhasil dibersihkan secara swadaya, dua titik besar masih membutuhkan penanganan serius dengan alat berat.
BPBD Kabupaten Malang terus berupaya melakukan penanganan dan pemantauan agar akses vital ini dapat segera dibuka kembali. Sementara itu, warga diimbau tetap waspada dan mengutamakan keselamatan di tengah cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi.
Baca Juga : Badai Salju Lumpuhkan Bandara Amsterdam
Cek Juga Artikel Dari Platform : suarairama

