Tangis Haru Guru Honorer di Stadion Bumi Sriwijaya
Tangis Haru Guru Honorer di Stadion Bumi Sriwijaya
Stadion Stadion Bumi Sriwijaya pagi itu bukan sekadar arena olahraga. Ia berubah menjadi saksi sejarah, tempat ribuan orang menumpahkan air mata yang selama bertahun-tahun tertahan. Tangis itu bukan karena kesedihan, melainkan karena harapan panjang yang akhirnya menemukan jawabannya.
Di tengah hamparan kursi stadion, 5.990 tenaga honorer dari berbagai sektor—guru, tenaga kesehatan, dan tenaga teknis—berdiri dengan mata berkaca-kaca. Hari itu, status mereka resmi berubah menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu. Sebuah perubahan administratif di atas kertas, tetapi bagi mereka adalah perubahan hidup yang nyata.
Dari Ketidakpastian Menuju Pengakuan
Selama bertahun-tahun, mereka bekerja dalam sunyi. Datang pagi, pulang sore, mengajar di ruang kelas yang sama, menjaga pasien di malam hari, atau mengurus administrasi tanpa sorotan. Upah yang diterima sering kali hanya ratusan ribu rupiah, bahkan tak jarang terlambat. Status honorer menggantung tanpa kepastian, tanpa jaminan masa depan.
Namun pada hari itu, angka di slip gaji berubah. Rp 2.670.000 tertera jelas. Angka yang mungkin tampak sederhana bagi sebagian orang, tetapi bagi para honorer ini adalah simbol pengakuan. Lebih dari sekadar nominal, itu adalah tanda bahwa negara akhirnya melihat dan mengakui keberadaan mereka.
Tangis haru pun pecah. Banyak di antara mereka tak mampu menahan emosi. Ada yang memeluk rekan di sebelahnya, ada yang menunduk sambil menyeka air mata, ada pula yang memandang langit stadion dengan wajah lega. Bertahun-tahun bertahan dalam ketidakpastian akhirnya berbuah kejelasan.
Sosok di Balik Keputusan
Di hadapan ribuan peserta, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru berdiri memberikan sambutan. Bagi para honorer, momen itu terasa berbeda. Bukan sekadar seremoni, tetapi penegasan bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.
Pengukuhan tersebut bukan janji politik, melainkan keputusan nyata. Status PPPK Paruh Waktu yang diberikan menjadi jembatan menuju kehidupan yang lebih layak. Para guru honorer yang selama ini mengabdi di pelosok desa, tenaga kesehatan yang berjaga tanpa lelah, hingga tenaga teknis yang menopang birokrasi daerah, kini memiliki kepastian hukum dan penghasilan yang lebih manusiawi.
Mereka yang Selalu Ada, Meski Tak Terlihat
Sering kali, pembangunan hanya diukur dari gedung tinggi dan proyek besar. Namun di balik semua itu, ada tangan-tangan yang bekerja tanpa banyak disebut. Guru honorer tetap mengajar meski fasilitas minim. Tenaga kesehatan tetap melayani meski lelah. Tenaga teknis tetap bekerja meski namanya jarang dikenal.
Mereka bukan orang baru. Mereka adalah wajah-wajah lama yang setia. Setia pada profesi, setia pada pengabdian, setia pada panggilan nurani. Dan justru karena kesetiaan itulah, momen di Stadion Bumi Sriwijaya terasa begitu emosional. Ini bukan hadiah instan, melainkan hasil dari pengabdian panjang yang akhirnya diakui.
Tangis yang Mengandung Harga Diri
Air mata yang jatuh hari itu bukan sekadar luapan emosi. Ia mengandung harga diri. Selama ini, banyak honorer merasa berada di pinggir sistem. Mereka bekerja untuk negara, tetapi seolah tidak sepenuhnya menjadi bagian dari negara.
Dengan pengukuhan PPPK Paruh Waktu, perasaan itu berubah. Ada rasa diakui. Ada rasa dihargai. Ada rasa bahwa jerih payah mereka memiliki arti. Tangis haru menjadi bahasa yang tak mampu diucapkan oleh kata-kata.
Dampak Nyata bagi Kehidupan
Perubahan status ini membawa dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Penghasilan yang lebih stabil berarti dapur bisa mengepul lebih pasti. Anak-anak bisa bersekolah dengan lebih tenang. Cicilan bisa dibayar tanpa rasa cemas berlebihan.
Bagi para guru, status ini juga meningkatkan kepercayaan diri di hadapan murid-murid mereka. Mereka bukan lagi “guru honorer” yang kerap dipandang sebelah mata, melainkan pendidik yang diakui secara resmi oleh negara.
Harapan yang Menular ke Daerah Lain
Di balik sorak bahagia di Stadion Bumi Sriwijaya, terselip doa sederhana namun kuat. Semoga keadilan ini tidak berhenti di Sumatera Selatan. Di daerah lain, masih banyak honorer dengan cerita yang sama—pengabdian panjang, upah minim, dan status yang menggantung.
Jika Sumatera Selatan bisa menyala, harapannya Indonesia pun ikut terang. Pengangkatan PPPK Paruh Waktu ini menjadi contoh bahwa negara mampu hadir ketika ada kemauan politik dan keberpihakan pada pengabdian.
Negara Hadir, Meski Terlambat
Bagi sebagian honorer, pengakuan ini datang terlambat. Usia tak lagi muda, tenaga tak lagi seprima dulu. Namun meski terlambat, kehadiran negara tetap berarti. Setidaknya, perjuangan mereka tidak berakhir tanpa jejak.
Momen ini juga menjadi refleksi bahwa sistem kepegawaian perlu terus dibenahi. Pengabdian tidak seharusnya dibayar dengan ketidakpastian berkepanjangan. Mereka yang bekerja untuk pelayanan publik layak mendapatkan jaminan dan perlindungan yang adil.
Stadion yang Menyimpan Sejarah
Stadion Bumi Sriwijaya hari itu menyimpan kisah yang akan lama diingat. Bukan tentang gol atau kemenangan olahraga, tetapi tentang kemenangan kemanusiaan. Tentang ribuan orang yang akhirnya berdiri dengan kepala tegak karena status mereka diakui.
Air mata yang jatuh di tribun stadion adalah saksi bahwa kebijakan publik bisa menyentuh sisi paling dalam dari kehidupan manusia. Bahwa angka dan regulasi bisa berubah menjadi harapan dan martabat.
Penutup
Tangis haru guru honorer di Stadion Bumi Sriwijaya adalah potret nyata perjuangan panjang yang akhirnya berbuah pengakuan. Dari gaji ratusan ribu rupiah menuju penghasilan yang lebih layak. Dari status menggantung menuju kepastian.
Lebih dari sekadar pengukuhan PPPK Paruh Waktu, peristiwa ini adalah pengingat bahwa di balik setiap kebijakan, ada manusia dengan cerita dan pengorbanan. Jika Sumatera Selatan bisa memberi harapan, semoga daerah lain segera menyusul. Karena pengabdian yang tulus, di mana pun berada, layak dihargai dengan keadilan yang sama.
Baca Juga : Gempa Magnitudo 4,7 Guncang Pasaman, BMKG Pastikan Aman
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : otomotifmotorindo

