Tarif 25 Persen AS, Iran Sebut Bukan Hal Baru
Tarif 25 Persen AS, Iran Sebut Bukan Hal Baru
Pemerintah Iran menanggapi kebijakan Amerika Serikat yang menetapkan tarif sebesar 25 persen terhadap negara-negara yang tetap melakukan aktivitas perdagangan dengan Teheran. Kebijakan tersebut dinilai bukan sesuatu yang baru bagi Iran, mengingat negara tersebut telah puluhan tahun berada di bawah tekanan ekonomi dan sanksi internasional.
Respons ini disampaikan langsung oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi. Ia menegaskan bahwa kebijakan Washington hanyalah pengulangan dari strategi lama yang selama ini gagal mencapai tujuan politiknya.
Menurut Iran, tekanan ekonomi semacam ini tidak pernah berhasil mengubah kebijakan nasional Teheran dan justru mendorong negara tersebut memperkuat kemandirian ekonominya.
Iran Terbiasa Hidup di Bawah Sanksi
Sejak Revolusi Islam, Iran telah menghadapi berbagai bentuk pembatasan ekonomi dari negara-negara Barat. Sanksi tersebut mencakup sektor energi, keuangan, perdagangan internasional, hingga pembatasan terhadap perusahaan asing yang menjalin kerja sama dengan Iran.
Dalam pandangan Teheran, sanksi bukan lagi ancaman baru, melainkan bagian dari realitas geopolitik yang sudah dihadapi selama puluhan tahun.
Boroujerdi menyatakan bahwa pengalaman panjang tersebut membuat Iran mampu beradaptasi dan membangun ketahanan ekonomi nasional.
Kebijakan AS Dinilai Tidak Efektif
Iran menilai kebijakan tarif 25 persen tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas negara. Menurut Boroujerdi, tekanan ekonomi serupa telah berulang kali diterapkan namun tidak menghasilkan perubahan kebijakan yang diinginkan oleh Amerika Serikat.
Sebaliknya, kebijakan tersebut justru mendorong Iran memperluas kerja sama ekonomi dengan negara-negara non-Barat.
Pendekatan ini dianggap sebagai bukti bahwa sanksi tidak selalu menjadi alat diplomasi yang efektif dalam hubungan internasional.
Kritik terhadap Otoritas Amerika Serikat
Boroujerdi juga menyoroti klaim Amerika Serikat yang seolah dapat memaksakan kebijakannya kepada seluruh dunia.
Ia menegaskan bahwa Presiden Amerika Serikat hanya memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan domestik, bukan mengatur hubungan dagang negara lain.
Menurutnya, dunia internasional kini semakin multipolar dan tidak lagi sepenuhnya tunduk pada kebijakan satu negara.
Dukungan dari Sejumlah Negara
Iran menyebut bahwa sejumlah negara dan blok ekonomi telah menyatakan sikap tidak akan mengikuti kebijakan tarif tersebut.
Hal ini menunjukkan adanya pergeseran kekuatan global, di mana keputusan sepihak semakin sering mendapat penolakan.
Teheran melihat kondisi ini sebagai peluang untuk memperkuat kerja sama ekonomi alternatif yang lebih adil dan saling menguntungkan.
Dampak terhadap Perdagangan Global
Kebijakan tarif tinggi dinilai berpotensi mengganggu stabilitas perdagangan internasional.
Sejumlah analis menilai bahwa tarif semacam ini dapat menciptakan ketidakpastian pasar, meningkatkan biaya transaksi, dan memicu reaksi balasan dari negara lain.
Dalam konteks global yang tengah menghadapi perlambatan ekonomi, langkah sepihak dinilai berisiko memperburuk kondisi perdagangan dunia.
Strategi Iran Menghadapi Tekanan Ekonomi
Selama bertahun-tahun menghadapi sanksi, Iran mengembangkan berbagai strategi ekonomi untuk bertahan.
Langkah tersebut mencakup penguatan industri dalam negeri, diversifikasi mitra dagang, serta peningkatan kerja sama dengan negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Iran juga mendorong penggunaan mata uang lokal dan mekanisme perdagangan alternatif guna mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan Barat.
Ketahanan Ekonomi sebagai Prioritas
Pemerintah Iran menempatkan ketahanan ekonomi sebagai prioritas nasional.
Kebijakan ini bertujuan mengurangi dampak fluktuasi global sekaligus memperkuat kemampuan produksi domestik.
Menurut Boroujerdi, tekanan eksternal justru mempercepat proses kemandirian ekonomi yang selama ini menjadi agenda utama pemerintah Iran.
Diplomasi Tetap Dikedepankan
Meski menghadapi tekanan, Iran menegaskan tetap membuka ruang diplomasi.
Teheran menyatakan siap membangun kerja sama ekonomi berdasarkan prinsip saling menghormati dan kepentingan bersama.
Iran menilai bahwa dialog dan kerja sama multilateral lebih efektif dalam menciptakan stabilitas global dibandingkan kebijakan tekanan sepihak.
Posisi Iran di Kawasan
Di tingkat regional, Iran tetap memainkan peran penting dalam perdagangan dan geopolitik Timur Tengah.
Sanksi ekonomi tidak sepenuhnya menghentikan aktivitas ekonomi Iran, terutama dalam sektor energi dan industri strategis.
Negara tersebut terus menjalin hubungan dagang dengan mitra regional dan memperluas pengaruh ekonominya di kawasan.
Reaksi Publik dan Pengamat
Kebijakan tarif AS juga menuai tanggapan dari pengamat internasional.
Sebagian menilai langkah tersebut lebih bersifat simbolik dibandingkan berdampak nyata.
Pengamat menilai bahwa pendekatan tekanan ekonomi tanpa dukungan internasional luas cenderung tidak efektif dan berpotensi menimbulkan ketegangan baru.
Masa Depan Hubungan Iran–AS
Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat hingga kini masih berada dalam kondisi tegang.
Kebijakan tarif terbaru dipandang sebagai kelanjutan dari dinamika lama yang belum menemukan titik temu.
Namun, banyak pihak menilai bahwa dialog tetap menjadi satu-satunya jalan untuk mengurangi ketegangan dan mencegah eskalasi konflik.
Kesimpulan
Penetapan tarif 25 persen oleh Amerika Serikat terhadap negara-negara yang berdagang dengan Iran mendapat respons tegas dari Teheran.
Iran menilai kebijakan tersebut bukan hal baru dan tidak akan efektif, mengingat sanksi serupa telah dihadapi selama puluhan tahun.
Teheran menegaskan bahwa tekanan ekonomi tidak akan mengubah kebijakan nasional dan justru mendorong penguatan kemandirian ekonomi.
Dalam pandangan Iran, dunia saat ini semakin multipolar, sehingga kebijakan sepihak tidak lagi mudah diterapkan secara global.
Pemerintah Iran menyatakan akan terus mengedepankan diplomasi, kerja sama internasional, serta ketahanan ekonomi sebagai fondasi menghadapi tekanan eksternal di masa depan.
Baca Juga : ATR 42-500 Jatuh di Bantimurung, SAR Hadapi Medan Sulit
Cek Juga Artikel Dari Platform : dapurkuliner

