Saham BUMI Melemah di Tengah IHSG Menguat
Tekanan Saham BUMI pada Awal Perdagangan
Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali mengalami tekanan pada perdagangan saham Kamis, 22 Januari 2026. Hingga sesi pertama, saham emiten batu bara tersebut tercatat bergerak melemah meskipun kondisi pasar secara umum menunjukkan tren positif.
Koreksi saham BUMI terjadi di tengah laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tetap bertahan di zona hijau. Perbedaan arah pergerakan ini mencerminkan tekanan yang bersifat spesifik terhadap saham BUMI, bukan sentimen negatif pasar secara keseluruhan.
Pergerakan saham BUMI menjadi sorotan karena terjadi setelah rangkaian aksi korporasi dan transaksi besar yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir.
Harga Saham Turun Lebih dari 4 Persen
Mengutip data RTI, harga saham BUMI melemah 4,66 persen hingga sesi pertama perdagangan ke posisi Rp368 per saham.
Pada awal perdagangan, saham BUMI sempat ditutup menguat empat poin di posisi Rp390 per saham sebelum akhirnya mengalami tekanan jual.
Sepanjang sesi, saham BUMI bergerak di kisaran yang cukup lebar, dengan level tertinggi mencapai Rp396 per saham dan level terendah tercatat di Rp258 per saham.
Rentang pergerakan tersebut mencerminkan volatilitas tinggi yang masih membayangi saham BUMI.
Nilai Transaksi Capai Rp2,1 Triliun
Meskipun harga saham mengalami koreksi, aktivitas perdagangan BUMI tetap tergolong tinggi.
Total frekuensi transaksi tercatat sebanyak 170.872 kali dengan volume perdagangan mencapai 54,63 juta saham.
Nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp2,1 triliun, menunjukkan bahwa minat pelaku pasar terhadap saham BUMI masih sangat besar.
Seiring pelemahan harga, kapitalisasi pasar BUMI tercatat sebesar Rp136,65 triliun.
Sentimen Penjualan Saham oleh Pemegang Besar
Tekanan terhadap saham BUMI tidak terlepas dari sentimen aksi jual oleh salah satu pemegang saham utamanya, Treasure Global Investment Limited.
Perusahaan tersebut sebelumnya mengumumkan telah menjual sekitar 18,1 miliar saham BUMI pada 19 Januari 2026.
Aksi penjualan dalam jumlah besar tersebut memicu perhatian pelaku pasar karena berdampak langsung pada struktur kepemilikan saham BUMI.
Meski transaksi dilakukan melalui pasar negosiasi, sentimen psikologis tetap memengaruhi pergerakan harga di pasar reguler.
Koreksi Jangka Pendek Pasca Lonjakan
Berdasarkan data Google Finance, harga saham BUMI tercatat turun sekitar 13,62 persen dalam lima hari perdagangan terakhir.
Namun jika dilihat dalam perspektif jangka panjang, kinerja saham BUMI sepanjang 2025 masih menunjukkan penguatan signifikan.
Sepanjang tahun lalu, saham BUMI tercatat melesat sekitar 196,77 persen.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa koreksi yang terjadi saat ini lebih bersifat penyesuaian setelah reli panjang.
IHSG Tetap Bertahan di Zona Hijau
Berbeda dengan saham BUMI, pergerakan IHSG hingga penutupan sesi pertama tetap berada di zona positif.
IHSG dibuka naik 42 poin ke posisi 9.052 dari penutupan sebelumnya di level 9.010.
Selama sesi pertama, indeks bergerak di kisaran 9.016,12 hingga 9.109,71.
Kinerja positif IHSG menunjukkan bahwa tekanan terhadap saham BUMI tidak berdampak signifikan terhadap sentimen pasar secara luas.
Aktivitas Perdagangan Bursa Masih Ramai
Secara keseluruhan, aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia berlangsung aktif.
Total frekuensi perdagangan mencapai 2.396.283 kali dengan volume transaksi sekitar 41,2 miliar saham.
Nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp19,3 triliun, mencerminkan likuiditas pasar yang masih terjaga dengan baik.
Pada saat yang sama, nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran Rp16.893.
Mayoritas Saham Bergerak Menguat
Hingga sesi pertama perdagangan, mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia tercatat bergerak menguat.
Sebanyak 423 saham mengalami kenaikan harga, sementara 260 saham melemah dan 118 saham bergerak stagnan.
Kondisi ini menjadi faktor utama yang mendorong penguatan IHSG meskipun terdapat tekanan pada beberapa saham tertentu.
Kinerja Sektor Saham Variatif
Dari sisi sektoral, sebagian besar sektor saham mencatatkan penguatan.
Sektor consumer nonsiklikal menjadi sektor dengan kenaikan terbesar, menguat 1,59 persen.
Sektor infrastruktur naik 1,55 persen, diikuti sektor energi yang bertambah 0,32 persen.
Sektor basic menguat tipis sebesar 0,05 persen.
Sektor Lain Juga Menghijau
Selain itu, sektor consumer siklikal tercatat naik 0,78 persen.
Sektor kesehatan menguat 0,67 persen, sektor properti bertambah 0,66 persen, dan sektor transportasi menguat 0,44 persen.
Penguatan merata di berbagai sektor ini memperlihatkan optimisme pasar terhadap prospek ekonomi secara umum.
Volatilitas Tinggi Saham Energi
Meski sektor energi secara agregat menguat, saham BUMI justru bergerak berlawanan arah.
Kondisi ini mencerminkan karakter saham berkapitalisasi besar yang sensitif terhadap aksi korporasi dan perubahan kepemilikan.
Volatilitas tinggi pada saham energi juga kerap terjadi seiring dinamika harga komoditas global dan sentimen pasar.
Investor Cermati Perkembangan Selanjutnya
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan lanjutan pasca aksi jual pemegang saham besar.
Keterbukaan informasi lanjutan mengenai struktur kepemilikan serta arah kebijakan perusahaan menjadi faktor penting yang dinantikan investor.
Dalam jangka pendek, pergerakan saham BUMI diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen transaksi besar dan psikologi pasar.
Pentingnya Transparansi Emiten
Dalam kondisi volatil, transparansi informasi dari emiten menjadi aspek krusial untuk menjaga kepercayaan investor.
Informasi yang jelas dan tepat waktu membantu pasar memahami konteks pergerakan saham secara lebih objektif.
Hal ini juga menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas pasar modal.
Penutup
Pelemahan saham PT Bumi Resources Tbk pada perdagangan 22 Januari 2026 terjadi di tengah kondisi pasar yang relatif kondusif.
Tekanan harga dipicu oleh sentimen aksi jual pemegang saham besar serta koreksi teknikal setelah lonjakan signifikan sepanjang 2025.
Meski demikian, aktivitas perdagangan yang tinggi menunjukkan bahwa saham BUMI masih menjadi pusat perhatian pelaku pasar.
Ke depan, arah pergerakan saham BUMI akan sangat bergantung pada dinamika kepemilikan, kondisi sektor energi, serta respons investor terhadap perkembangan terbaru di pasar modal.
Baca Juga : Treasure Global Lepas 18,19 Miliar Saham BUMI
Cek Juga Artikel Dari Platform : radarbandung

