Megatsunami 200 Meter Guncang Greenland hingga 9 Hari
beritabumi.web.id Wilayah Greenland dikenal sebagai daratan es terbesar di belahan bumi utara. Namun di balik lanskapnya yang sunyi dan terpencil, kawasan ini pernah menjadi lokasi salah satu fenomena alam paling ekstrem dalam sejarah modern. Para ilmuwan mengungkap bahwa sebuah megatsunami raksasa pernah menerjang wilayah timur Greenland dan memicu getaran Bumi dalam durasi yang tidak biasa.
Peristiwa ini terjadi di kawasan Dickson Fjord, sebuah fjord sempit yang dikelilingi tebing curam dan gletser besar. Gelombang air yang muncul akibat kejadian tersebut diperkirakan mencapai ketinggian hingga 200 meter, menjadikannya salah satu tsunami tertinggi yang pernah tercatat dalam penelitian ilmiah.
Longsoran Es Picu Gelombang Raksasa
Megatsunami ini bukan disebabkan oleh gempa tektonik seperti tsunami pada umumnya. Pemicu utama datang dari longsoran es dan batu berukuran masif yang runtuh dari tebing tinggi menuju fjord. Ketika material raksasa tersebut jatuh ke air, energi yang dilepaskan menciptakan gelombang ekstrem dalam ruang sempit.
Kondisi geografis fjord berperan besar dalam memperkuat dampak kejadian ini. Dinding curam di kedua sisi menyebabkan energi gelombang terperangkap dan memantul berulang kali. Akibatnya, air tidak langsung mereda, melainkan terus bergerak naik turun dengan kekuatan besar dalam waktu lama.
Bumi Bergetar Selama Sembilan Hari
Salah satu aspek paling mengejutkan dari peristiwa ini adalah dampaknya terhadap getaran Bumi. Para peneliti mendeteksi sinyal seismik aneh yang bertahan selama sembilan hari berturut-turut. Getaran tersebut tidak menyerupai pola gempa bumi biasa, sehingga sempat membingungkan komunitas ilmiah.
Getaran ini kemudian diketahui berasal dari osilasi air di dalam fjord. Gelombang raksasa yang terjebak terus berayun seperti bandul raksasa, menghasilkan tekanan berulang terhadap dasar bumi. Fenomena ini kemudian dikenal sebagai seiche, yaitu getaran air dalam ruang tertutup yang dapat berlangsung sangat lama.
Penemuan Tak Sengaja oleh Ilmuwan
Menariknya, fenomena ini tidak langsung teridentifikasi sebagai megatsunami. Para ahli awalnya menemukan sinyal seismik misterius yang muncul secara global. Tidak adanya gempa besar membuat para peneliti kebingungan mencari sumbernya.
Setelah dilakukan analisis lanjutan menggunakan data satelit, foto udara, serta pemodelan komputer, barulah terungkap bahwa sumber getaran berasal dari Dickson Fjord di Greenland timur. Longsoran besar yang terjadi di kawasan tersebut menjadi kunci utama terungkapnya misteri getaran sembilan hari.
Dampak Perubahan Iklim terhadap Stabilitas Es
Peristiwa ini memunculkan perhatian serius terhadap dampak perubahan iklim di wilayah kutub. Pemanasan global menyebabkan lapisan es dan permafrost melemah, sehingga meningkatkan risiko longsoran dalam skala besar. Ketika suhu meningkat, struktur es yang selama ribuan tahun stabil menjadi rapuh.
Greenland menjadi salah satu wilayah yang paling cepat mengalami perubahan. Pencairan gletser bukan hanya berdampak pada kenaikan permukaan laut, tetapi juga memicu bencana lokal seperti longsoran dan tsunami fjord yang berpotensi mematikan.
Mengapa Megatsunami Sangat Berbahaya
Megatsunami berbeda dari tsunami biasa. Gelombangnya dapat mencapai ratusan meter, terutama di wilayah sempit seperti fjord atau teluk tertutup. Meski dampaknya sering bersifat lokal, kekuatannya dapat menghancurkan seluruh kawasan pesisir dalam waktu singkat.
Dalam kasus Greenland, wilayah yang terdampak memang terpencil dan tidak berpenghuni padat. Namun para ilmuwan memperingatkan bahwa fenomena serupa dapat terjadi di wilayah lain di dunia yang memiliki karakter geografis mirip, seperti Alaska, Norwegia, dan Chile.
Pelajaran Penting bagi Ilmu Kebumian
Fenomena ini memberikan pelajaran besar bagi dunia sains. Selama ini, tsunami kerap dikaitkan dengan aktivitas gempa bumi. Kejadian di Greenland membuktikan bahwa longsoran besar akibat perubahan iklim juga mampu menciptakan bencana dengan skala yang tak kalah dahsyat.
Para peneliti kini mulai memperluas sistem pemantauan tidak hanya pada aktivitas tektonik, tetapi juga pada stabilitas lereng es dan batu di kawasan kutub. Integrasi data satelit, sensor seismik, dan pemodelan iklim menjadi kunci untuk memahami risiko masa depan.
Potensi Ancaman di Masa Mendatang
Walau peristiwa ini terjadi di wilayah terpencil, dampaknya menimbulkan kekhawatiran global. Seiring meningkatnya suhu bumi, potensi longsoran besar diperkirakan akan semakin sering terjadi. Hal ini membuka kemungkinan munculnya megatsunami di wilayah yang sebelumnya dianggap aman.
Ilmuwan menilai bahwa pemantauan dini sangat penting untuk mengurangi risiko. Sistem peringatan yang mampu mendeteksi longsoran besar perlu dikembangkan, terutama di kawasan fjord yang dekat dengan pemukiman atau jalur pelayaran.
Greenland sebagai Laboratorium Alam
Greenland kini dipandang sebagai laboratorium alam yang memperlihatkan secara nyata dampak perubahan iklim. Dari pencairan es hingga kejadian megatsunami, wilayah ini memberikan gambaran ekstrem tentang bagaimana alam merespons kenaikan suhu global.
Fenomena getaran Bumi selama sembilan hari menjadi bukti bahwa satu peristiwa lokal dapat menghasilkan sinyal global. Hal ini menunjukkan betapa saling terhubungnya sistem bumi, mulai dari atmosfer, es, air, hingga kerak planet.
Peringatan Sunyi dari Alam
Megatsunami di Dickson Fjord bukan sekadar catatan ilmiah, melainkan peringatan sunyi dari alam. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian ini membuka mata dunia tentang potensi bencana baru yang dipicu oleh perubahan iklim.
Para ilmuwan menilai bahwa memahami fenomena seperti ini sangat penting untuk kesiapsiagaan masa depan. Dunia mungkin tidak bisa menghentikan seluruh proses alam, tetapi dengan ilmu pengetahuan, risiko dapat dipahami dan dampaknya diminimalkan.
Peristiwa di Greenland menunjukkan bahwa di balik keheningan wilayah es, tersimpan kekuatan alam yang luar biasa. Ketika keseimbangan terganggu, dampaknya tidak hanya terasa secara lokal, tetapi mampu mengguncang seluruh planet selama berhari-hari.

Cek Juga Artikel Dari Platform dapurkuliner.com
