Akrobat Investor Asing BUMI: Chengdong dan UBS Lepas Saham Akhir Tahun
Tekanan jual investor asing kembali membayangi saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sepanjang Desember 2025. Di tengah reli harga yang sangat agresif sejak awal tahun, dua institusi asing tercatat melakukan aksi divestasi bertahap, yakni Chengdong Corporation dan UBS AG.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar: apakah aksi jual ini menjadi sinyal negatif bagi prospek BUMI, atau justru merupakan langkah teknis yang wajar setelah lonjakan harga signifikan?
Chengdong Pangkas Kepemilikan
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan laporan kepemilikan saham ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tertanggal 29 Desember 2025, Chengdong Corporation tercatat menurunkan kepemilikan saham BUMI dari 6,99 persen menjadi 5,99 persen.
Jumlah saham yang dikuasai Chengdong menyusut dari sekitar 25,98 miliar saham menjadi 22,27 miliar saham. Seluruh transaksi tersebut diklasifikasikan dengan tujuan divestment, bukan sekadar perdagangan jangka pendek.
Aksi jual Chengdong dimulai sejak awal Desember dan berlangsung hampir setiap pekan. Pada 1 Desember 2025 saja, Chengdong melepas lebih dari 460 juta saham BUMI di kisaran harga Rp244–Rp246 per saham. Penjualan berlanjut secara bertahap hingga akhir bulan, dengan harga transaksi yang bervariasi mengikuti volatilitas pasar.
UBS AG Ikut Melepas Saham
Selain Chengdong, UBS AG London juga tercatat melakukan aksi jual ratusan juta saham BUMI sepanjang Desember 2025. Penjualan ini ikut memangkas porsi kepemilikan UBS di emiten batu bara milik Grup Bakrie tersebut.
Meski jumlah pasti pelepasan UBS tidak sebesar Chengdong, kehadiran dua nama besar asing dalam daftar penjual membuat tekanan psikologis di pasar meningkat, terutama bagi investor ritel.
Profit Taking atau Sinyal Fundamental?
Jika ditarik ke belakang, aksi jual asing ini terjadi setelah saham BUMI mencatatkan kenaikan luar biasa. Secara year to date hingga akhir Desember 2025, saham BUMI telah melonjak lebih dari 200 persen. Dalam tiga bulan terakhir saja, kenaikannya tembus lebih dari 150 persen.
Dengan performa seperti itu, aksi profit taking oleh investor lama—terutama institusi asing—sebenarnya tergolong wajar. Divestasi tidak selalu berarti perubahan pandangan negatif terhadap fundamental perusahaan, melainkan bisa menjadi strategi realisasi keuntungan setelah target tertentu tercapai.
Asing Keluar, Tapi Tidak Sepenuhnya
Menariknya, aksi jual Chengdong dan UBS tidak serta-merta diikuti arus keluar dana asing secara masif. Pada periode yang sama, beberapa investor institusi global lain justru tercatat masih melakukan pembelian saham BUMI.
Data transaksi sebelumnya menunjukkan bahwa investor global seperti BlackRock, Vanguard Group, dan Dimensional Fund Advisors sempat menambah kepemilikan mereka pada November–Desember 2025.
Hal ini mengindikasikan bahwa pergerakan saham BUMI saat ini lebih mencerminkan rotasi kepemilikan antar investor asing, bukan eksodus dana global.
Dampak ke Pergerakan Harga
Secara teknikal, aksi jual asing di akhir tahun berkontribusi pada koreksi harga saham BUMI yang sempat turun sekitar 10 persen dalam dua hari perdagangan beruntun. Namun, koreksi tersebut masih terjadi dalam konteks tren naik yang lebih besar.
Harga saham BUMI kemudian mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, menandakan bahwa tekanan jual mulai diserap oleh minat beli baru, baik dari investor domestik maupun sebagian investor asing lainnya.
Apa yang Perlu Dicermati Investor?
Bagi investor, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dari fenomena ini:
- Divestasi tidak selalu negatif
Aksi jual Chengdong dan UBS lebih tepat dibaca sebagai realisasi keuntungan setelah reli panjang, bukan sinyal kerusakan fundamental. - Perhatikan tren besar
Selama tren harga jangka menengah–panjang masih terjaga dan tidak ditembus secara signifikan, koreksi bisa menjadi bagian dari konsolidasi sehat. - Pantau arus dana lanjutan
Jika aksi jual asing meluas dan diikuti penurunan volume beli institusi lain, barulah risiko pembalikan tren perlu diwaspadai.
Kesimpulan
Akrobat investor asing di saham BUMI pada akhir 2025—melalui divestasi Chengdong dan UBS—lebih mencerminkan dinamika wajar setelah lonjakan harga ekstrem. Meski menekan harga dalam jangka pendek, data menunjukkan bahwa minat investor global terhadap BUMI belum sepenuhnya pudar.
Bagi investor, kunci utamanya adalah tidak terpaku pada satu sisi cerita. Selama fundamental dan tren utama masih terjaga, aksi jual asing justru bisa menjadi bagian dari proses pembentukan harga yang lebih sehat ke depan.
Baca Juga : Saham BUMI Mulai Koreksi: Peluang Tambah Beli atau Cukup?
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : beritagram

