Cuaca Ekstrem Perparah Krisis Pengungsi di Gaza
Badai Musim Dingin Rusak Ribuan Tenda Pengungsi
Cuaca ekstrem kembali memperburuk krisis kemanusiaan di Jalur Gaza. Badai musim dingin disertai hujan deras dan angin kencang menghancurkan ribuan tenda yang selama ini menjadi tempat berlindung bagi keluarga pengungsi Palestina. Banyak tenda dilaporkan robek, terangkat, bahkan tersapu angin hingga tidak lagi bisa digunakan.
Badai mulai melanda pada Jumat dan diperkirakan berlangsung beberapa hari ke depan. Kondisi ini menambah penderitaan warga yang sebelumnya sudah hidup dalam situasi darurat akibat konflik berkepanjangan dan kerusakan infrastruktur berskala besar.
Angin Kencang Capai 60 Km/Jam
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, menjelaskan bahwa kecepatan angin mencapai hingga 60 kilometer per jam. Angin tersebut menghantam kawasan pesisir dan wilayah padat pengungsi, membuat tenda-tenda darurat tidak mampu bertahan.
“Angin kencang dan hujan deras merusak banyak tenda, terutama di wilayah pesisir,” ujar Basal, dikutip dari TRT World. Ia menambahkan bahwa banyak keluarga terpaksa bertahan di tenda yang sudah tidak layak, atau mencari perlindungan sementara di bangunan rusak.
Pengungsi Terjebak Tanpa Alternatif Tempat Tinggal
Sebagian besar pengungsi di Gaza kehilangan rumah akibat konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun. Banyak kawasan permukiman hancur total atau rusak berat, sehingga warga tidak memiliki pilihan selain tinggal di tenda-tenda darurat di lahan terbuka, termasuk di sepanjang pantai.
Basal menegaskan bahwa situasi ini tidak bisa dilepaskan dari pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan dan material rekonstruksi. Tanpa pasokan bahan bangunan, warga tidak mampu memperbaiki rumah atau membangun tempat tinggal yang lebih aman.
Setiap Badai Berpotensi Jadi Bencana
Menurut otoritas setempat, setiap badai kini berpotensi berubah menjadi bencana besar. Ribuan tenda masih berada dalam kondisi rapuh dan mudah runtuh. Banyak keluarga hanya memiliki perlindungan tipis dari terpal dan rangka seadanya.
Pada akhir Desember lalu, badai serupa menyebabkan ratusan tenda di pesisir Khan Younis terendam air laut. Air asin merusak peralatan, pakaian, dan bahan makanan, membuat kondisi pengungsi semakin rentan.
Bangunan Rusak Terancam Ambruk
Tak hanya tenda, ribuan rumah yang rusak sebagian juga berada dalam kondisi berbahaya. Dinding retak dan struktur bangunan yang melemah membuat rumah-rumah tersebut rawan roboh saat hujan deras dan angin kencang melanda.
Dalam beberapa bulan terakhir, puluhan bangunan dilaporkan ambruk saat cuaca buruk, menimbulkan korban jiwa. Banyak keluarga terpaksa bertahan di bangunan berisiko karena tidak memiliki alternatif lain.
Dampak Terbesar pada Perempuan dan Anak
Krisis ini berdampak paling besar pada kelompok rentan, terutama perempuan dan anak-anak. Anak-anak terpaksa tidur di tempat lembap dan dingin, meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan infeksi. Perempuan menghadapi kesulitan besar dalam menjaga keamanan dan kesehatan keluarga di tengah kondisi darurat.
Organisasi kemanusiaan memperingatkan bahwa cuaca ekstrem, jika berlangsung lama, dapat memicu lonjakan kasus penyakit dan kematian yang sebenarnya bisa dicegah.
Angka Korban Terus Bertambah
Otoritas Gaza menyebut lebih dari 71.000 warga Palestina tewas sejak Oktober 2023, dengan lebih dari 171.000 lainnya terluka. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Meski gencatan senjata mulai diberlakukan sejak Oktober lalu, serangan masih terjadi dan menelan ratusan korban tambahan.
Dalam situasi ini, badai dan cuaca ekstrem menjadi ancaman tambahan yang mempercepat krisis kemanusiaan.
Krisis di Bawah Standar Kemanusiaan
Mahmoud Basal menegaskan bahwa kondisi hidup warga Gaza saat ini jauh di bawah standar kemanusiaan. Kurangnya perlindungan, minimnya fasilitas dasar, serta risiko cuaca ekstrem menjadikan kehidupan pengungsi sangat rentan.
Ia menyebut situasi tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional. Menurutnya, warga sipil seharusnya mendapatkan perlindungan memadai, termasuk akses terhadap tempat tinggal yang aman dan bantuan darurat.
Seruan Pembukaan Akses Bantuan
Otoritas setempat dan kelompok kemanusiaan terus menyerukan pembukaan akses bantuan tanpa hambatan. Mereka menilai masuknya tenda yang lebih kuat, bahan bangunan, dan perlengkapan musim dingin menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban.
Tanpa intervensi cepat, cuaca ekstrem yang terus berulang dikhawatirkan akan memperparah penderitaan jutaan pengungsi di Gaza.
Penutup
Badai musim dingin yang melanda Gaza kembali menegaskan rapuhnya kondisi pengungsi Palestina. Ribuan tenda hancur, bangunan rusak terancam roboh, dan keluarga hidup tanpa perlindungan layak di tengah cuaca ekstrem.
Krisis ini menunjukkan bahwa tanpa solusi kemanusiaan yang berkelanjutan dan akses bantuan yang memadai, setiap hujan dan angin kencang akan terus berubah menjadi bencana baru bagi warga Gaza.
Baca Juga : OTT KPK Jakut, Delapan Orang Diamankan dan Uang Disita
Cek Juga Artikel Dari Platform : indosiar

