Saham BUMI Mulai Koreksi: Peluang Tambah Beli atau Cukup?
Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memasuki fase koreksi setelah reli panjang yang sangat agresif. Kondisi ini memunculkan pertanyaan klasik di kalangan investor: apakah koreksi ini menjadi peluang buy on weakness, atau justru sinyal untuk mulai mengamankan keuntungan?
Koreksi Sehat di Tengah Tren Naik
Pada perdagangan 23–24 Desember 2025, saham BUMI terkoreksi dua hari berturut-turut dengan penurunan akumulatif sekitar 10 persen. Koreksi ini membawa harga mendekati area support terdekat di kisaran level 340. Secara teknikal, pergerakan tersebut masih tergolong wajar mengingat sebelumnya BUMI mengalami kenaikan sangat tajam dalam waktu singkat.
Menariknya, pada perdagangan Senin (29/12/2025), tekanan jual mulai mereda. Saham BUMI ditutup menguat sekitar 1,10 persen, menandakan mulai munculnya minat beli di area bawah. Ini menjadi sinyal awal bahwa pasar mulai menganggap harga di zona tersebut menarik untuk kembali dikoleksi.
Kinerja Harga: Masih Sangat Kuat
Jika ditarik ke belakang, koreksi ini terjadi setelah kinerja luar biasa. Secara bulanan, saham BUMI telah menguat sekitar 64,55 persen. Dalam tiga bulan terakhir, lonjakannya bahkan mencapai 158,57 persen. Sejak awal tahun (year to date), BUMI sudah naik lebih dari 206 persen.
Dengan performa sekuat ini, koreksi jangka pendek justru bisa dibaca sebagai proses “pendinginan” yang sehat agar tren naik tetap berlanjut secara berkelanjutan, bukan langsung berbalik arah.
Aksi Jual Asing: Perlu Dicermati Konteksnya
Tekanan jangka pendek pada saham BUMI juga bertepatan dengan aksi divestasi oleh investor asing Chengdong Investment Corp. Sepanjang Desember 2025, Chengdong secara bertahap menurunkan kepemilikannya dari 6,99 persen menjadi 5,99 persen.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada 26 Desember 2025, Chengdong melepas sekitar 3,71 miliar saham BUMI melalui transaksi penjualan di pasar reguler. Harga transaksi bervariasi di kisaran Rp238 hingga Rp388 per saham, dengan tujuan divestment.
Namun, penting dicatat bahwa aksi ini bersifat spesifik pada satu investor dan tidak serta-merta mencerminkan arus keluar dana asing secara keseluruhan.
Fakta Menarik: Asing Justru Banyak Masuk
Berbeda dengan persepsi negatif akibat divestasi Chengdong, data transaksi menunjukkan bahwa minat investor global terhadap BUMI masih sangat kuat. Beberapa institusi besar justru tercatat melakukan pembelian signifikan.
BlackRock membeli sekitar 8,85 juta saham BUMI pada 22 Desember 2025. Dimensional Fund Advisors tercatat memborong sekitar 55,44 juta saham pada 19 Desember 2025. Bahkan, Vanguard Group melakukan pembelian terbesar dengan mengoleksi sekitar 60,08 juta saham pada 30 November 2025.
Data ini memperkuat pandangan bahwa koreksi BUMI lebih disebabkan oleh profit taking jangka pendek dan aksi divestasi individual, bukan karena perubahan sentimen fundamental secara menyeluruh.
Strategi: Tambah Beli atau Tahan Dulu?
Dari sudut pandang teknikal, selama saham BUMI masih bertahan di atas area support dan tidak menembus tren naik utamanya, peluang buy on support masih terbuka. Rebound kecil yang muncul di akhir Desember menjadi indikasi awal bahwa tekanan jual mulai melemah.
Namun, mengingat kenaikan yang sudah sangat tinggi dalam waktu relatif singkat, pendekatan yang lebih bijak adalah bertahap. Investor agresif bisa mempertimbangkan akumulasi di area support dengan manajemen risiko yang ketat, sementara investor konservatif dapat menunggu konfirmasi lanjutan berupa volume beli yang lebih kuat atau breakout kembali dari area konsolidasi.
Kesimpulan
Koreksi saham BUMI saat ini lebih mencerminkan fase normalisasi setelah reli panjang, bukan sinyal pembalikan tren. Masuknya investor institusi global menjadi faktor penyeimbang yang penting untuk diperhatikan.
Apakah ini waktu yang tepat untuk tambah beli? Jawabannya sangat bergantung pada profil risiko masing-masing investor. Selama tren besar masih naik dan support teknikal terjaga, peluang masih terbuka. Namun, disiplin terhadap manajemen risiko tetap menjadi kunci, mengingat volatilitas saham ini yang tinggi setelah lonjakan harga besar.
Baca Juga : Transisi Energi Kian Bertumpu pada Panas Bumi
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : faktagosip

